Ads

Tampilkan postingan dengan label Bengkulu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bengkulu. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 September 2015

Rindu Hati

Posted by JELANG at 01.59.00 0 Comments
Rindu Hati adalah salah satu desa tua yang berada di kecamatan Taba Penanjung Kabupaten BengkuluTengah. Desa ini berjarak kurang lebih 36 Km atau 45 menit dari kota Bengkulu dan merupakan salah satu sub DAS Air Bengkulu atau hulu sungai Bengkulu yang mana air sungai ini dipakai oleh PDAM untuk mensuplai kebutuhan air sebagian masyarakat Bengkulu.


Secara ringkas desa Rindu Hati berdiri pada abad lebih kurang abad 15 masehi yang termasuk didalam wilayah marga SELUPU BARU kecamatan Taba Penanjung Kabupaten Bengkulu Tengah. Nama desa diambil dari perasaan kerinduan antara keluarga besar anak dalang dan para sahabat yaitu “INDEU ATIEA” yang dalam bahasa rejangnya “DUATEI” yang berarti RINDU HATI. Dalam persi ini dibuktikan bahwa penduduk Rindu Hati sebagian berasal dari sungai limau yang bergelar Raja dan Siti.

Namun ada persi lain yang mengatakan bahwa desa Rindu Hati pada mulanya diambil dari salah satu nama kampung yang berada di Sumatra Barat dekat dengan kerajaan Pagaruyung daerah Batu Sangkar yaitu “SARUASO” yang dalam bahasa rejangnya disamakan dengan DUATIEA yang berarti satu rasa dan satu hati, ini dibuktikan dengan hampir 60% dari penduduk desa Rindu Hati adalah keturunan dari Sumatera Barat dan dalam persi ini penduduk Rindu Hati bergelar Sutan dan Encik.
Hampir sebagian besar masyarakat berprofesi sebagai petani kebun ( kopi robusta) atau sawah  irigasi dan ada juga sebagai  pekerja buruh pada lahan perkebunan milik warga, dengan sistem bagi hasil atau sewa lahan.





Kamis, 03 September 2015

Rinduhati Kala Senja

Posted by JELANG at 02.38.00 4 Comments

Selasa, 17 Maret 2009

RAFLESIA ARNOLDI

Posted by JELANG at 09.03.00 1 Comment
Raflesia yang banyak dikenal masyarakat adalah jenis Raflesia Arnoldi. Jenis ini hanya tumbuh di hutan sumatera bagian selatan, terutama Bengkulu. Satu tempat yang paling bagus dan mudah untuk menemukan bunga Raflesia Arnoldi ini adalah di hutan sepanjang jalan Bengkulu-Curup yang lebih dikenal oleh masyarakat Bengkulu disebut gunung atau liku sembilan, ini dikarenakan jalan lintas ini berkelok-kelok. Di Bengkulu sendiri, bunga Raflesia telah dijadikan sebagai motif utama batik besurek (batik khas Bengkulu) sejak lama.Rafflesia Arnoldi dikenal sebagai Patma raksasa (Rafflesia Arnoldi) yang merupakan tumbuhan parasit obligat, yang terkenal karena memiliki bunga berukuran sangat besar, bahkan merupakan bunga terbesar di dunia. Ia tumbuh di jaringan tumbuhan merambat (liana) Tetrastigma dan tidak memiliki daun sehingga tidak mampu berfotosintesis. Tumbuhan ini endemik di Pulau Sumatera, terutama bagian selatan (Bengkulu, Jambi, dan Sumatera Selatan). Taman Nasional Kerinci-Seblat merupakan daerah konservasi utama spesies ini.
Jenis ini bersama-sama dengan anggota genus Rafflesia yang lainnya, terancam statusnya akibat penggundulan hutan yang dahsyat. Bunga ini merupakan parasit tidak berakar, tidak berdaun, dan tidak bertangkai. Diameter bunga ketika sedang mekar bisa mencapai 1 meter dengan berat sekitar 11 kilogram. Bunga menghisap unsur anorganik dan organik dari tanaman inang Tetrasigma. Satu-satunya bagian yang bisa disebut sebagai “tanaman” adalah jaringan yang tumbuh di tumbuhan merambat Tetrastigma. Bunga mempunyai lima daun mahkota yang mengelilingi bagian yang terlihat seperti mulut gentong. Di dasar bunga terdapat bagian seperti piringan berduri, berisi benang sari atau putik bergantung pada jenis kelamin bunga, jantan atau betina. Hewan penyerbuk adalah lalat yang tertarik dengan bau busuk yang dikeluarkan bunga. Bunga hanya berumur sekitar satu minggu (5-7 hari) dan setelah itu layu dan mati. Presentase pembuahan sangat kecil, karena bunga jantan dan bunga betina sangat jarang bisa mekar bersamaan dalam satu minggu, itu pun kalau ada lalat yang datang membuahi.
Raflesia merupakan tumbuhan parasit obligat pada tumbuhan merambat (liana) tetrasigma dan tinggal di dalam akar tersebut seperti tali. Sampai saat ini Raflesia tidak pernah berhasil dikembangbiakkan di luar habitat aslinya dan apabila akar atau pohon inangnya mati, Raflesia akan ikut mati. Oleh karena itu Raflesia membutuhkan habitat hutan primer untuk dapat bertahan hidup.


Senin, 24 November 2008

Monumen Thomas Parr

Posted by JELANG at 02.05.00 2 Comments

Monumen Thomas Parr salah satu objek wisata sejarah peninggalan Inggris yang ada ketika menjajah Bengkulu sebelum ditukarkan pada Belanda dengan Singapura.

Monumen yang berdekatan dengan benteng Marlborough ini merupakan simbol perjuangan dan persatuan dalam mempertahankan hak dan kemerdekaan dari penindasan kolonial Inggris. Monumen ini sering juga disebut rakyat Bengkulu sebagai kuburan bule.Dari segi fisik monumen ini terlihat unik pada bagian arsitekturnya, Monumen ini memiliki 3 pintu masuk yaitu pada bagian depan, sisi kiri dan sisi kanan, masing-masing pintu berbentuk melengkung dan tidak memiliki daun pintu. 

Pada bagian atap berbentuk kubah. Dan pada salah satu dindingnya terdapat sebuah prasati, namun sayang saat ini prasasti tersebut tidak terbaca lagi,dikarenakan rusak dan kurangnya perawatan. Monumen yang berbentuk tugu segi delapan, tiang-tiangnya bergaya corinthian ( bulat berbentuk balok kayu yang mempunyai makna kokoh dan berwibawa.dengan luas ± 70 m² dan tinggi 13,5 meter ini dibangun oleh pemerintah Inggris pada tahun 1808 untuk memperingati Residen Thomas Parr yang mati dibunuh oleh para pejuang Bengkulu.


Thomas Parr adalah penguasa Inggris yang ke 49 yang terkenal sangat keji dan kejam. Dia diangkat oleh pemerintah Inggris untuk menggantikan Deputy Governor Walter Ewer (1800-1805). Semasa memerintah (1805-1807), Thomas Parr menerapkan sisitem tanam paksa untuk membuka perkebunan kopi di Bengkulu. Selama masa tanam paksa ini banyak memakan korban jiwa, sehingga menimbulkan kebencian rakyat Bengkulu.

Sampai suatu ketika, kebencian rakyat tak terbendung lagi terhadap thomas Parr. Tepatnya tanggal 23 Desember 1807, pada malam hari masyarakat beramai-ramai menyerbu Mount Felix tempat peristirahatan Thomas Parr ( sekarang merupakan Rumah Dinas Gubernur atau Gedung Daerah), dengan maksud untuk membunuh sang residen. Hingga pada malam itu sang residen mati terbunuh dengan cara yang menggenaskan. Kepalanya dipenggal dan diarak keliling kota oleh masyarakat Bengkulu.

Atas kejadian itu pemerintah Inggris tidak tinggal diam. Mereka melakukan pembalasan dengan membunuh setiap penduduk yang merka temui, menghacurkan dusun-dusun, bahkan hewan ternak pun tak luput dari kemarahan tentara Inggris yang hilang kendali, pembalasan ini begitu membabi buta dan keji.



Minggu, 16 November 2008

Pulau Enggano

Posted by JELANG at 21.39.00 2 Comments
Pulau Enggano adalah pulau terluar Indonesia yang terletak di samudra Hindia dan berbatasan dengan negara India. Pulau Enggano ini merupakan bagian dari wilayah pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu, dan merupakan satu kecamatan. Pulau ini berada di sebelah barat daya dari kota Bengkulu dengan koordinat 5° 31′ 13″ LS, 102° 16′ 0″ BT.
Laporan pertama mengenai pulau ini berdasarkan catatan Cornelis de Houtman yang mengunjungi pulau ini tanggal 5 Juni 1596. Tidak diketahui dari mana de Houtman mengetahui nama pulau ini, yang dalam bahasa Portugis, engano, berarti "kecewa".
Penduduk asli Pulau Enggano adalah suku Enggano, yang terbagi menjadi lima puak asli (penduduk setempat menyebutnya suku). Semuanya berbahasa sama, bahasa Enggano. Suku atau Puak Kauno yang mulai menempati tempat ini pada zaman Belanda (sekitar tahun 1934).

PROFIL PULAU ENGGANO

Secara administratif Pulau Enggano (Kecamatan Enggano) masuk dalam wilayah Kabupaten Bengkulu Utara dengan letak Geografis 102,05 – 102,25 Bujur Timur dan 5,17 – 5,31 Lintang Selatan. Luas pulau Enggano sekitar 40.000 ha, yang terdiri dari 6 desa yaitu; desa Banjarsari, Meok, Apoho, Malakoni, Kaana dan desa Kahyapu dengan pusat pemerintahan di desa Apoho. Dari luasan yang ada; 3.724,75 ha, merupakan hutan desa, 24.184 hutan ulayat, hutan nibung 719 ha, hutan waru 465,25 ha, rawa 1.967,75 ha, sawah 301,75 ha, perkebunan 2.614,50 ha, perkampungan 123,25 ha, hutan bakau 1.710,50 ha, hutan keramat 394,74 ha. Untuk lahan yang masih bermasalah atau belum jelas statusnya seperti areal eks PT. EDP dan Lapangan Terbang seluas 2.400 ha, lapangan terbang 202,25 ha. Dari luasan yang ada, Enggano hanya didiami oleh 1.927 jiwa yang terbagi kedalam 6 suku dan 6 desa yang ada dengan kepadatan sekitar 4,8 jiwa per km2 (Bengkulu Utara dalam angka, 2000).

Dari segi geografis sebenarnya Pulau Enggano lebih dekat ke Bengkulu Selatan dibandingkan dengan Kota Bengkulu dan Kabupaten Bengkulu Utara. Jarak dari Kota Bengkulu  156 km (92 mil laut), jarak dari Ibukota Bengkulu Selatan (Manna)  96 km (60 mil laut) dan jarak ke Ibukota Kabupaten Bengkulu Utara 92 mil laut ditambah perjalanan darat dari Kota Bengkulu Ke Arga Makmur sepanjang 76 km.

Pulau Enggano merupakan salah satu pulau kecil di Pantai Barat Sumatera yang mempunyai panjang sekitar 45 km dan lebar 17 km (Dephut, 1998). Kondisi ekosistim pulau Enggano masih terbilang bagu
s kalau dibandingkan dengan pulau-pulau kecil lainnya disisi pantai barat Sumatera. Ekosistim Pulau Enggano Unik, dengan ekosistem yang unik ini maka P. Enggano lebih rapuh jika dibandingkan dengan ekosistem daratan. Gangguan sedikit saja pada salah satu unsur ekosistim yang ada akan berakibat terganggunya keseluruhan ekosistem pulau tersebut (Dirjen Pengusahaan Hutan, juli 1995).
Alat transportasi umum yang digunakan sampai saat ini adalah transportasi laut 2 kali dalam seminggu, berupa kapal perintis yang merapat di Dermaga Malakoni , dan KMP Raja Enggano yang merapat di Dermaga Kahyapu , atau dapat juga menggunakan
kapal nelayan (bobot 16 ton) bila transportasi umum mengalami gangguan (rusak atau perubahan trayek). Transportasi antar desa di Enggano lebih banyak memanfaatkan transportasi laut, karena fasilitas transportasi darat belum mendukung. Sarana jalan yang ada memanjang dari desa Banjarsari ke Desa Malakoni sepanjang 17 km berupa jalan pengerasan (campur batu karang) yang dibuat tahun 2002 dan desa Malakoni ke desa Kahyapu sepanjang 16 km masih berupa jalan tanah yang pada musim hujan sangat sulit dilewati.
Habitat yang penting adalah seperti hutan mangrove dan terumbu karang yang masih cukup baik kondisinya. Daratan pulau ditutupi sebagian besar oleh hutan dan dialiri oleh 5 sungai besar. Pulau Enggano merupakan salah satu kawasan Important Bird Area (IBA) dan juga termasuk dalam Endemic Bird Area atau EBA karena di pulau ini juga ditemukan dua jenis burung endemik yaitu Otus engganensis (burung hantu) dan Zoosterps salvadori (burung kacamata). Ditemukan tidak kurang dari 45 jenis burung dan banyak jenis lainnya belum teridentifikasi (belum ada pengamatan menyeluruh). Belum terdapat data yang memadai mengenai jumlah dan jenis flora dan fauna yang ada di Enggano.
Pulau Enggano juga banyak menyimpan potensi hasil hutan kayu dan non kayu seperti melinjo, rotan, manau, tanaman obat-obatan, dan hasil laut. Beberapa potensi ini belum dijadikan pilihan alternatif bagi masyarakat karena berbagai kendala yang dihadapi.


Bengkulu

Posted by JELANG at 21.02.00 0 Comments
Wilayah administrasi Propinsi Bengkulu memanjang dari perbatasan Propinsi Sumatera Barat sampai ke perbatasan Propinsi Lampung dan jaraknya lebih kurang 567 kilometer. Ditinjau dari keadaan geografisnya, Propinsi Bengkulu terletak diantara 2º 16’-3º31’ LS dan 101º 01’-103º41’ BT. Propinsi Bengkulu di sebelah utara berbatasan dengan Propinsi Sumatera Barat, di sebelah selatan berbatasan dengan Propinsi Lampung, di sebelah barat berbatasan dengan Samudera Hindia dan di sebelah timur berbatasan dengan Propinsi Jambi dan Propinsi Sumatera Selatan. Di wilayah Bengkulu sekarang dahulunya pernah berdiri kerajaan-kerajaan etnis seperti Kerajaan Sungai Serut, Kerajaan Selebar, Kerajaan Pat Petulai, Kerajaan Balai Buntar, Kerajaan Sungai Lemau, Kerajaan Sekiris, Kerajaan Gedung Agung, dan Kerajaan Marau Riang. Di bawah Kesultanan Banten, mereka menjadi vazal.
British East India
Company (EIC) sejak 1685 mendirikan pusat perdagangan lada Bencoolen dan kemudian gudang penyimpanan di tempat yang sekarang menjadi Kota Bengkulu. Saat itu, ekspedisi EIC dipimpin oleh Ralph Ord dan William Cowley untuk mencari pengganti pusat perdagangan lada setelah Pelabuhan Banten jatuh ke tangan VOC dan EIC dilarang berdagang di sana. Traktat dengan Kerajaan Selebar bertanggal 12 Juli 1685 mengizinkan Inggris untuk mendirikan benteng dan berbagai gedung perdagangan. Benteng York didirikan tahun 1685 di sekitar muara Sungai Serut. Nama "Bencoolen" diperkirakan diambil dari sebuah nama bukit di Cullen, Skotlandia, Bin of Cullen (atau variasinya, Ben Cullen). Pada tahun 1713 dibangun benteng Marlborough (selesai 1719) hingga sekarang masih tegak berdiri. Namun demikian, perusahaan ini lama kelamaan menyadari tempat itu tidak menguntungkan karena tidak bisa menghasilkan lada dalam jumlah mencukupi.
Baru semenjak dilaksanakannya Perjanjian London 1824, Bengkulu diserahkan ke Belanda, dengan imbalan Malaka (sekaligus penegasan kepemilikan Tumasik/Singapura dan Pulau Belitung). Sejak itu Bengkulu menjadi bagian dari Hindia Belanda.
Penemuan deposit emas di daerah Rejang Lebong pada paruh kedua abad ke-19 menjadikan tempat itu sebagai pusat penambangan emas hingga abad ke-20. Saat ini, kegiatan penambangan komersial telah dihentikan semenjak habisnya deposit.
Pada tahun 19
30-an, Bengkulu menjadi tempat pembuangan sejumlah aktivis pendukung kemerdekaan, termasuk Sukarno. Di masa inilah Sukarno berkenalan dengan Fatmawati yang kelak menjadi isterinya.
Semenjak kemerdekaan Indonesia, Bengkulu pertama-tama menjadi keresidenan dalam Provinsi Sumatera Selatan. Baru semenjak 18 November 1968 ditingkatkan statusnya menjadi provinsi ke-26 (termuda sebelum Timor Timur).
Propinsi Bengkulu terletak di sebelah barat pegunungan Bukit Barisan. Luas wilayah administrasinya mencapai lebih kurang 1.978.870 hektar atau 19.788,7 kilometer persegi.
Propinsi Bengkulu berbatasan langsung dengan Samudera Hindia pada garis pantai sepanjang lebih kurang 433 kilometer. Bagian timurnya berbukit-bukit dengan dataran tinggi yang subur, sedangkan bagian Barat merupakan dataran rendah yang relatif sempit, memanjang dari utara ke selatan serta diselang-selangi daerah yang bergelombang.
Tidak banyak yang dapat dikatakan mengenai Bengkulu. Sudah diketahui bahwa Propinsi Bengkulu terletak di tepi barat pulau Sumatera, berhadapan langsung dengan Samudera Indonesia. Oleh karena itu, pantai di Bengkulu sangat besar ombaknya sehingga relatif rawan untuk seked
ar berenang-renang di pantai.
Kekayaan
flora hutan tropis Propinsi Bengkulu yang sudah terkenal dan telah menjadi objek wisata hutan adalah bunga Raflesia Arnoldi, yang terdapat di hutan kabupaten Bengkulu Utara. Selain itu yang juga cukup menarik dan berpotensi untuk dijadikan objek wisata hutan karena kelangkaannya, yaitu: bunga anggrek Vanda, bunga Bangkai, dan kayu Merbabu. Sementara itu, kekayaan fauna yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi objek wisata adalah harimau sumatera, siamang, tapir, kerbau liar, rusa, serta penangkaran gajah sumatera.


Recent Articles

Blogroll

Recent News

back to top